Ono Sarwono
Kader NasDem
ADA pesan serius dan penting dalam rangkaian Safari Ramadan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NasDem di Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu. Acara silaturahim yang dipimpin Waketum Saan Mustopa itu sekaligus dikemas sebagai wahana konsolidasi kader partai.
Pesan yang dimaksud adalah dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jateng Lestari Moerdijat. Pada kesempatan itu Rerie, sapaannya, bertanya kepada forum, ‘Apakah kita takut? Dengan penuh semangat dan tegas seluruh kader yang hadir menjawab, ‘Tidak takut!’.
Pertanyaan itu konteks dengan situasi politik di Jateng akhir-akhir ini. Selain jadi ceruk partai mapan, juga ada partai yang merasa besar karena didukung oleh tokoh ‘besar’ seperti mengobarkan genderang ‘perang’ menjadikan Jateng sebagai kandangnya. Jateng memang selalu menjadi tolok ukur untuk skala nasional.
Saan Mustopa menyatakan bahwa semangat tidak takut menghadapi dinamika politik partai-partai bermodal besar itu tidak terlepas dari urusan watak. Hanya kader yang berjiwa pemberani yang tidak kenal miris. Oleh karena itu, semua kader NasDem diharapkan berwatak kesatria dalam kondisi apa pun.
Bila dianalogikan, NasDem saat ini seperti berada di tengah ancang-ancang duel para raksasa yang haus dan lapar. Seolah tidak memiliki kemampuan kompetitif untuk menandingi mereka. Maka, hanya dengan mental berani itulah satu-satunya ‘pusaka’ untuk mengalahkan mereka.
Seperti halnya dalam cerita wayang. Berdasarkan hitung-hitungan nalar, Pandawa yang hanya lima orang sulit menang melawan Kurawa yang beranggota 100 orang. Pandawa hanya didukung beberapa raja, sedangkan Kurawa dibela para tokoh besar serta puluhan raja dengan seluruh bala tentaranya.
Tapi, dalam pertarungan di Kurusetra, Pandawa menang. Kurawa beserta seluruh pendukung dan sekutunya sirna. Kunci kesuksesan Pandawa karena bermental pemberani. Mereka tidak takut dengan lawan yang meraksasa. Selain itu, Pandawa sakti dan solid sebagai satu kesatuan.
Menggeladi diri
Syahdan, sejak merampas kekuasaan Astina dari Pandawa–ahli waris mendiang Prabu Pandu Dewanata, Kurawa terus menerus berupaya menyirnakan sepupunya itu. Tekad bengis tersebut dilakukan demi tujuan menjamin kelanggengan kekuasaan inskontitusional mereka hingga turun-temurun.
Tapi setiap upaya dan rekadaya Kurawa selalu gagal. Namun demikian, para putra Drestarastra-Gendari yang dimentori Sengkuni itu tidak pernah berhenti mencari cara agar Pandawa lenyap. Terakhir, mereka berhasil mengusir Pandawa dari Amarta dan berharap mati di Hutan Kamyaka.
Kisah Pandawa harus meninggalkan istana Indraprastha dan kehilangan kedaulatan Negara Amarta itu karena kalah main dadu dengan Kurawa. Tapi selama 12 tahun hidup di hutan bukan menjadikan Pandawa ringkih, apalagi mati. Putra Pandu-Kunti/Madrim itu justru menjadi kesatria ampuh.
Kenapa Pandawa justru menjadi kesatria hebat padahal mereka dalam himpitan kesengsaraan di hutan? Karena mereka tidak tenggelam dalam penderitaan dan menjadikan ‘lelakonnya’ sebagai wahana laku prihatin. Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa menggeladi diri lahir dan batin.
Salah satu contoh monumental dalam penggemblengan diri itu dilakukan Arjuna ketika bertapa di Goa Mintaraga. Dalam semadinya ia dikenal dengan sebutan Begawan Ciptaning. Laku spiritualnya sempat menggegerkan Kahyangan dan membuat para dewa merasa kalah pamor.
Dewa kemudian memberi anugerah berupa pusaka panah Pasopati kepada Arjuna yang dinilai memiliki kualitas jiwa yang mumpuni. Panengah Pandawa itu pun diberi keistimewaan memperistri Bathari Supraba dan tinggal sementara di Kahyangan sebagai berkah setelah menyirnakan Niwatakawaca yang mengganggu ketenteraman Jonggring Saloka.
Sebelum itu, pasca-terusir dari istana Astina–tempat kelahiran sekaligus rumah warisan ayahnya, Pandawa terus mesu budi, menjalani laku prihatin. Mereka tiada jeda menggembleng diri meraih predikat mulia, pribadi-pribadi tangguh yang tidak takut apa pun.
Selain itu, Pandawa terus menjalankan kampanye dengan tindakan nyata di tengah masyarakat. Misalnya, Bratasena (Werkudara) memberi bantuan kemanusiaan kepada Ijrapa sekeluarga serta warga Desa Manahilan lainnya yang tercekik pajak yang diterapkan Raja Giripura Prabu Baka.
Pajak itu bukan harta benda atau materi. Ijrapa dan warga wajib menyerahkan upeti berupa daging manusia yang masih hidup sebagai santapan istimewa Baka. Raja berwujud raksasa itu memang kanibal. Sebulan sekali menyantap manusia sebagai kegemaran sekaligus untuk tumbal kesaktiannya.
Dengan kuku Pancanaka, Bratasena membinasakan Baka sehingga Ijrapa dan warga bebas dari pajak yang mengerikan tersebut. Sebagai balas budi, semua warga Manahilan bersumpah akan memberikan dukungan kepada Pandawa dalam perang Bharatayuda.
Entah dari mana awal mulanya, telah tersebar kabar ke seluruh penjuru jagat bahwa Pandawa dan Kurawa akan saling berhadap dalam perang besar dengan sebutan Bharatayuda. Perang antara saudara untuk menentukan keutamaan unggul atas kezaliman.
Menangkan perang
Rampungnya Pandawa melewati ‘hukuman’ di Kamyaka dan hidup menyamar satu tahun di Wiratha, menjadi titik awal pecahnya Bharatayuda. Duryudana (Kurawa) menolak mengembalikan kedaulatan Amarta dan separuh wilayah Astina kepada Pandawa sesuai dengan kesepakatan dalam permainan dadu.
Kresna, sebagai duta pamungkas Pandawa, gagal menagih janji kepada Duryudana. Malah nyawanya sempat terancam. Sebelumnya, dengan maksud yang sana, Yama Widura (pamannya), dan Kunti (ibunya), juga tidak membuahkan hasil.
Duryudana berani ingkar janji karena percaya diri dengan kekuatannya yang dibangun untuk menggilas Pandawa. Bagaimana tidak, Begawan Durna, guru Pandawa dan Kurawa, berpihak kepadanya. Begitu juga paranpara Resi Bhisma yang dikenal maha sakti.
Di sisi lain, Pandawa sebenarnya miris melawan Kurawa. Bukan karena lawan ‘bermodal’ besar tetapi karena yang akan dihadapi ada pula para pepundennya sendiri. Tapi, Kresna sebagai botohnya, menyuntikkan mantra kepada Pandawa agar tidak takut karena yang dilawan sesungguhnya keangkaramurkaan.
Kresna menyatakan Pandawa pasti unggul bila mampu menjaga kekompakan. Kemenangan tidak ditentukan oleh menggunungnya modal yang dimiliki kelompok tetapi terletak pada patriotisme serta soliditas dalam perjuangan.
Pada akhirnya, Pandawa mengalahkan Kurawa hanya dalam waktu 18 hari. Mereka kembali mendapatkan kedaulatan Amarta serta kekuasaan Astina yang memang haknya. Kedua negara itu kemudian disatukan dengan nama Yawastina.
Poin yang bisa dipetik dari kisah ini adalah bahwa NasDem tidak perlu ngeper (takut) menghadapi semua lawan bermodal besar. Dengan kekompakan serta soliditas kader dalam perjuangan dan disertai doa, partai ini akan selalu unggul dalam setiap medan pertempuran. (*)

