Ono Sarwono
Penyuka wayang
DALAM Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar beberapa waktu lalu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dengan penuh semangat menyatakan dirinya akan bekerja keras, siap habis-habisan, dan bahkan mati-matian untuk PSI.
Terlalu mudah untuk menjawab kenapa PSI begitu istimewa bagi Jokowi sehingga rela bersikap demikian. Tentu karena partai tersebut diketuai anaknya. Tampaknya suasana kebatinannya pas dengan ungkapan Jawa, anak polah bapa kepradah.
Tapi dalam konteks Jokowi sebagai mantan pemimpin bangsa dan negara, sudah pas-kah ingin berjibaku seperti itu? Idealnya, seseorang yang pernah menduduki jabatan tertinggi negara sepatutnya menjadi negarawan bukan berhaluan partisan.
Memang tidak ada aturan yang melarang. Lagi-lagi ini persoalan norma dan etika sehingga semua tergantung pada sejauh mana harkat-martabat diindahkan. Harus diakui bahwa dunia politik dan demokrasi di negeri ini miskin nilai-nilai keadaban.
Bila kita tengok dalam cerita wayang, ada tokoh yang bisa dijadikan model atau bahan renungan tentang bagaimana mantan pemimpin negara menentukan haluan politiknya setelah tidak berkuasa. Poinnya, ia tinggalkan ego demi Ibu Pertiwi yang dicita-citakan dan diimpikan.
Prioritas utama kepentingan bangsa dan negara bukan anak atau keluarga. Jalur politiknya kebangsaan bukan kelompok atau partai. Eloknya, sang permaisuri dan anak mendukung penuh langkahnya yang dinilai benar dan terhormat.
Satukan dua negara
Tokoh yang dimaksud bernama Puntadewa. Ia putra sulung mendiang Raja Astina Prabu Pandu Dewanata dengan Kunti. Punya dua saudara kandung, Werkudara dan Arjuna. Saudara lain ibu, kembar Nakula-Sadewa, yang lahir dari rahim Madrim.
Menurut paugeran negara (konstitusi), Puntadewa berhak nglungsur keprabon atau menggantikan ayahnya menjadi raja. Tapi, jangankan mewarisi singgasana negara, ia bersama adik-adiknya yang dikenal dengan sebutan Pandawa terusir dari istana.
Kurawa yang diotaki pamannya, Sengkuni, merampas hak Pandawa sebagai ahli waris kekuasaan Astina pasca-wafatnya Pandu. Bahkan, mereka berulang kali jadi target pembunuhan sehingga terpaksa meninggalkan istana demi keselamatan.
Padahal, Kurawa dan Pandawa saudara sepupu. Mereka sama-sama cucu Prabu Kresna Dwipayana alias Abiyasa. Kurawa yang berjumlah seratus anak adalah keturunan Drestarastra, kakak Pandu, yang menikahi Gendari, kakak Sengkuni.
Melihat retaknya keutuhan generasi penerus Astina, Begawan Bhisma, paranpara negara yang dihormati, memberi solusi agar Pandawa-Kurawa rukun. Kelima putra Pandu diberi tanah Wanamarta, wilayah kekuasaan Astina, untuk tempat tinggal.
Singkat cerita, Pandawa mampu membangun rumah swadaya di Wanamarta yang kemudian berkembang menjadi negara yang bernama Amarta lengkap dengan istananya yang megah nan indah. Kerajaan baru itu juga bernama Indraprastha.
Semula Puntadewa tidak bersedia menjadi raja. Ia merasa Werkudara dan Arjuna yang berjasa besar mendirikan Amarta sehingga satu di antara keduanya yang pantas duduk di singgasana. Tapi adik serta ibunda memintanya mengemban Amanah.
Meski sebagai penguasa tunggal, Puntadewa yang bergelar Prabu Darmakusuma, menerapkan kepemimpinan kolektif-kolegial bersama empat adiknya. Tidak ada satu pun kebijakan dan keputusan yang diambil tanpa pertimbangan saudaranya.
Dengan cara demikian, pembangunan Amarta berjalan lancar dan bersih korupsi. Hukum tegak dan keadilan tercipta sehingga rakyat sejahtera. Istana Indraprasta pun semakin indah bersinar bak istananya Bathara Indra di Kahyangan Tenjamaya.
Dampak majunya negara baru itu mengakibatkan rakyat Astina berbondong-bondong menyeberang dan menjadi warga Amarta. Mereka bukan hanya ingin mengejar kemakmuran tetapi juga kehidupan yang ayem-tenteram lahir-batin.
Banyaknya warga Astina yang eksodus ke Amarta membuat Raja Astina Prabu Duryudana gusar. Ia pun berusaha menguasai kedaulatan negara adik sepupunya itu. Sengkuni, yang menjadi patih rezim Kurawa, lalu memutar otak.
Tak sulit bagi politikus culas itu menemukan ide bagaimana Amarta bisa dikuasai. Puntadewa diajak main dadu. Ia paham betul kesenangan serta watak sulung Pandawa itu sehingga strategi tengiknya bakal membuahkan hasil dengan mulus.
Puntadewa menerima ajakan Kurawa main dadu meski adik-adiknya menyarankan agar menolak karena tahu ada niat jahat di baliknya. Benar adanya, Pandawa kalah dan kedaulatan Amarta yang menjadi taruhan, akhirnya pindah tangan ke Kurawa.
Bukan itu saja, berdasarkan perjanjian permainan dadu, Pandawa bukan hanya menyerahkan Amarta dan seluruh kekuasaannya tetapi juga harus menjalani hidup di Hutan Kamyaka selama selusin tahun ditambah menyamar satu tahun.
Bila Pandawa mampu menyelesaikan ujian itu, Amarta dikembalikan dan separuh wilayah Astina diberikan. Tapi, nyatanya, Duryudana (Kurawa) mengingkari. Itu yang menjadi awal terjadinya Bharatayuda selama 18 hari di medan Kurusetra.
Singkat cerita Pandawa menang dan Kurawa sirna. Puntadewa tetap menjadi raja dua negara (Amarta-Astina) yang disatukan dengan nama Yawastina. Takhta yang menjadi haknya kembali dalam genggamannya seiring sirnanya angkara murka.
Pilih Parikesit
Seiring berjalannya waktu, Puntadewa merasa dua periode kepemimpinannya usai. Ia ingin ada pengganti yang bisa mewujudkan Yawastina Emas. Berdasarkan aturan turun-temurun, anak raja yang berhak mewarisi kedudukan menjadi raja.
Namun ditimbang-timbang, putra tunggalnya yang bernama Pancawala tidak memenuhi kualifikasi. Puntadewa memilih Parikesit, anak Abimanyu-Utari. Cucu Arjuna itu dinilai mampu mengemban amanah membawa Yawastina menggapai puncak kegemilangan.
Botoh Pandawa, Sri Bathara Kresna, sepakat dengan keputusan itu. Raja Mandura Prabu Baladewa yang menjadi paranpara Yawastina, juga memberi restu. Sentana dalem dan semua nayaka praja juga mendukung penuh kepemimpinan Parikesit.
Langkah Puntadewa itu di luar kebiasaan. Sebagai raja dan memiliki pengaruh besar tapi tidak mengedepankan kepentingan anak dan keluarga. Keputusannya atas dasar jiwa kenegarawanan. Bangsa dan negara menjadi prioritas utama.
Pancawala pun tahu diri dan menghormati sikap politik serta kebijakan ayahnya. Drupadi, ibunya, juga sepakat terhadap pilihan suami. Pada akhir kisahnya, Puntadewa diceritakan moksa dengan legacy (warisan) yang begitu indah dan mulia. (*)

