JATENG.NASDEM.ID – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Partai NasDem, Faiz Alauddien Reza Mardhika, mengunjungi seorang anak berusia tujuh tahun bernama inisial AZ yang menjadi korban selamat dari tragedi keluarga di Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Selasa, (13/01).
AZ merupakan anak yang selamat dari peristiwa meninggalnya sang ibu dan adik laki-lakinya akibat bunuh diri. Dalam peristiwa tersebut, AZ sempat diajak, namun berhasil menyelamatkan diri.
Dalam kunjungannya, Reza menyampaikan bahwa kehadirannya bertujuan memastikan kondisi psikologis, kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan AZ terpenuhi secara maksimal agar kejadian tragis tersebut tidak berdampak pada tumbuh kembangnya.
“Ini peristiwa yang sangat memilukan. Kehadiran saya untuk memastikan adik AZ mendapatkan pemulihan mental, kenyamanan hidup, serta hak pendidikan dan kesehatannya terpenuhi,” ujar Reza, Selasa (13/1).
.
Ia menjelaskan, saat ini AZ telah ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sebagai anak dengan perlindungan khusus. Pemerintah pusat berkoordinasi dengan Dinas PPA tingkat provinsi dan kabupaten untuk melakukan pemantauan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Kebumen juga telah melakukan asesmen awal terhadap kondisi AZ dan keluarganya, termasuk terkait perubahan wali, mengingat ayah korban tidak lagi menjalankan pengasuhan.
Sebagai bentuk kepedulian pribadi, Reza menyatakan akan menanggung seluruh biaya pendidikan AZ mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“Saya pribadi memastikan biaya pendidikannya sampai kuliah akan saya tanggung,” tegasnya.
Selain itu, Reza juga memberikan bantuan perlengkapan sekolah serta melakukan kegiatan pemulihan psikologis sederhana seperti menggambar dan mewarnai bersama AZ. Koordinasi lintas sektor turut dilakukan dengan aparat desa, tenaga kesehatan, dan unsur kecamatan guna memantau perkembangan kondisi anak tersebut secara berkelanjutan.
Terkait motif kejadian, Reza menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dan surat wasiat yang ditinggalkan, peristiwa tersebut bukan dipicu faktor ekonomi, melainkan persoalan rumah tangga. Korban disebut mengalami tekanan mental berat setelah ditinggalkan suami yang berselingkuh.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa sebelumnya telah memberikan berbagai bantuan sosial kepada keluarga, sehingga kejadian ini tidak berkaitan dengan ketiadaan bantuan negara.
Lebih lanjut, Reza mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu kesehatan mental.
“Kesehatan mental bukan hal sepele. Ketika seseorang menunjukkan tanda depresi atau menyampaikan keinginan mengakhiri hidup, itu harus ditanggapi serius oleh keluarga, tetangga, dan pemerintah desa,” ujarnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama agar lingkungan sekitar lebih peka dan responsif terhadap kondisi psikologis warga, khususnya mereka yang rentan.***

