Ono Sarwono
Kader NasDem
PADA malam tahun baru yang lalu Panakawan lek-lekan (mencegah tidur) seraya tirakatan di pondoknya Semar Badranaya di Kampung Klampisireng. Suasana di dusun ketika itu terasa dingin dan syahdu berhias gerimis yang turun sejak sore.
Begitulah adat Semar dan anak-anaknya setiap menyambut datangnya tahun baru. Bukan berpesta atau merayakannya dengan kegembiraan tapi berkontemplasi atas semua yang terjadi dan bermuhasabah untuk menjalani hidup lebih bernilai.
Dalam momen itu juga terungkap pembicaraan atas berbagai peristiwa selama satu tahun yang dianggap memiliki pesan penting. Di antaranya yang menjadi perhatian serius mereka adalah banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra.
Menurut Panakawan, bencana yang menelan banyak korban jiwa dan melenyapkan serta menghancurnya ribuan rumah itu berdimensi banyak persoalan. Tidak hanya curah hujan ekstrim sebagai penyebab, tapi juga karena karma keserakahan orang.
“Kita sungkawa atas banyaknya korban jiwa dan harta benda akibat bencana yang melanda Sumbar, Sumut, dan Aceh,” kata Semar penuh keprihatinan.
Gareng, Petruk, dan Bagong juga menyampaikan empati kepada semua warga yang menjadi korban. Bukan hanya sedih tapi mereka juga geram karena bencana alam yang terjadi lebih banyak diakibatkan oleh perbuatan gerombolan manusia rakus.
Seperti yang mereka ketahui dari berbagai sumber, di hulu sekeliling kawasan yang diterjang banjir dan longsor itu ternyata marak penjarahan dan pengalihan fungsi hutan serta penambangan ilegal. Itulah yang menimbulkan dahsyatnya bencana.
“Mereka itu siapa ta Truk (Petruk), maksudku yang mengobrak-abrik hutan dan merusak alam itu?” tanya Gareng penuh penasaran.
Petruk tak bisa menjawab dengan jelas karena memang tidak tahu persis. Tapi yang pasti, katanya, para pelaku itu bukan orang sembarangan. Para penggasak itu orang yang punya kekuatan tertentu. “Yang pasti bukan rakyat jelata!”
Gareng lalu menggerutu bagaimana negara seperti tak berkutik atau menutup mata atas penjarahan kekayaan bangsa secara ugal-ugalan. Apa karena ada oknum aparat bermain, membekingi, dan atau jangan-jangan ada pejabat ikut mengganyang.
“Ah…seperti nggak tahu saja Kang,” sergah Bagong.
Menurut Bagong, praktik edan-edanan seperti itu sudah lama juga terjadi di mana-mana, di pulau-pulau lain di seluruh Tanah Air. Para pencoleng berlomba-lomba menjarah demi mendapatkan bergunung-gunung duit tanpa memikirkan akibatnya.
“Tapi negara tidak hadir!”, tukas Bagong. “Negara hadir itu bukan ketika ada bencana lalu memberi bantuan sembako dan lain-lain. Negara hadir itu sejak awal menata, mengurus dengan baik, dan menindak tegas para menyeleweng.”
Petruk menyela, sebenarnya pemerintah sudah mengatur, misal dengan memberi hak pengusahaan hutan (HPH) di wilayah yang sudah ditentukan. Tapi memang banyak korporasi menyalahi aturan, dengan kata lain sesuka-sukanya.
Sebenarnya, lanjutnya, kalau semua baik-baik saja, sesuai dengan ketentuan, tidak ada masalah. Banyak negara yang menebang hutan dan menambang tetapi minim bencana dan berkelanjutan karena mematuhi aturan dengan penuh tanggung jawab.
“Sepengetahuan saya, yang memiliki HPH itu kok golongan orang itu-itu saja ya. Makanya, yang kaya dari dulu sampai saat ini orangnya ya itu-itu saja,” ujar Gareng. “Bagaimana caranya, misalnya, saya bisa memiliki HPH?”
Bagong berpendapat HPH itu permainan, kongkalingkong kalangan elite. Rakyat sengaja tidak perlu diberi tahu. Seharusnya, konsesi hutan dan juga tambang itu dibuat seadil-adilnya bagi rakyat. Pada intinya, ada pemerataan dan keadilan.
Tiba-tiba Semar, yang tadinya hanya menyimak obrolan anaknya, angkat bicara dengan nada agak meninggi, “Thole (anak-anak) jangan ngoceh (bicara) ngalor-ngidul (kemana-mana). Kalau tidak tahu benar, jangan ngomong sembarangan!”
Suasana yang tadinya ‘hangat’ berubah tenang. Gareng, Petruk, dan Bagong saling pandang dan saling tersenyum tipis. Mereka lalu bersama-sama menikmati camilan bakwan dan combro. Minumannya tersedia wedang jahe sereh gula batu.
Berbeda dengan di kota-kota yang meriah karena warga merayakan malam tahun baru dengan terompet dan menyalakan kembang api, Dusun Klampisireng semalaman sidhem premanem (tenang dan sunyi). Hanya bunyi belalang dan jangkerik yang terdengar.
“Maaf Pak, kami bicara dari berita yang sudah tersebar di berbagai media,” kata Petruk memecah suasana.
“Ketimbang nyemamlem (diam termenung), Pak,” tambah Bagong yang membuat Gareng terkekeh-kekeh lalu nyeletuk, “Daripada gabut! ya Gong (Bagong)”.
Tidak lama kemudian, Semar bersyukur di tengah menggilanya nafsu serakah di mana-mana yang menimbulkan mala petaka, masih ada sikap dan perilaku mulia masyarakat. Berempati dan tergerak hatinya membantu korban dengan ikhlas.
“Sejujurnya, ini jati diri kita. Suka menolong dan bergotong royong. Semoga nilai-nilai kemanusiaan ini lestari, tak tergerus oleh perilaku-perilaku dungu,” ujarnya.
Sebelum Semar bicara lebih lanjut, Bagong mengingatkan bahwa sikap masyarakat sewaktu-waktu bisa menjadi brutal ketika kesabaran sudah habis. Semua mesti mengambil pelajaran peristiwa penjarahan rumah orang yang dianggap melukai.
“Rakyat bisa anarkistis jika para orang kaya, pemimpin dan elite pongah. Tidak peka terhadap kondisi riil (keprihatinan) rakyat,” kata Bagong.
“Terus terang saya ngeri, Gong. Rakyat bisa terbiasa menghakimi dengan cara sendiri jika merasa tidak ada keadilan, termasuk tidak adanya keadilan di tempat pengadilan,” ujar Gareng.
Semar berdehem seperti meminta waktu untuk melanjutkan bicara. Sejenak setelah suasana tenang, Semar dengan penuh kidmat mengatakan bahwa bila negara benar-benar dikelola dengan baik, maka semuanya akan baik.
Bathara Ismaya itu mewanti-wanti bahwa alam itu hidup dengan hukum kodratnya. Oleh karena itu, manusia mesti bijak dan menghormati demi kemaslahatan hidup bersama. Mendadak terdengar suara kokok ayam tanda pagi segera menjelang.

