Ono Sarwono (Kader NasDem)
DALAM beberapa kesempatan belakangan Presiden Joko Widodo menyampaikan harapan dan pesan yang pada intinya bangsa ini harus rukun. Misalnya, menjelang pilpres partai politik jangan saling menjatuhkan, kalau bisa malah saling memuji.
Semua komponen bangsa wajib menjaga situasi nasional kondusif. Jangan sampai tahun-tahun politik membuat suasana menjadi panas, maksimal hangat saja. Pun diwanti-wanti agar tidak ada politisasi suku ras agama dan antargolongan.
Raja Astina Prabu Kresnadwipayana juga pernah menyampaikan pesan semacam kepada putra dan semua keturunannya sebelum lengser keprabon (turun takhta). Celakanya, pesan diabaikan satu kelompok cucunya sehingga menuai kehancuran.
Bersikap semeleh
Dalam konsep kepemimpinan aristokrasi, Kresnadwipayana menjadi pionir bahwa kekuasaan ada batas waktunya. Ia menyampingkan paugeran (aturan) turun-temurun yang dikeramatkan. Sikapnya itu merupakan kesadaran diri atas dasar etika dan kepantasan.
Pada umumnya, raja berkuasa hingga akhir hayat. Sebelum meninggal, biasanya raja sudah mempersiapkan calon penerusnya yang telah ‘dimahkotai’ dengan predikat putra mahkota. Inilah yang berlaku di negara belahan dunia manapun
Tapi Kresnadwipayana memang berbeda. Baginya, berkuasa selamanya itu tidak baik. Menurut pandangannya, pemimpin itu ada masanya, eranya. Selain itu, usia muda dan semangat muda sesuai dengan jamannya merupakan syarat penting.
Merunut ke belakang, Kresnadwipayana berkuasa memang bukan atas kehendak atau nafsu pribadi. Tak memiliki cita-cita, apalagi berhasrat atau bermimpi menjadi raja. Jalan hidupnya-lah yang menuntunnya hingga ke tampuk kekuasaan Astina.
Ibunda Durgandini yang membawanya menjadi raja. Gara-gara singgasana Astina kosong akibat dua orang putranya dari pernikahan dengan mendiang Prabu Sentanu meninggal tanpa memiliki keturunan. Kresnadwipayana ialah buah hati Durgandini dari suami sebelumnya, Palasara.
Sentanu masih memiliki satu anak dari istri pertama, Dewi Gangga, yang bernama Dewabrata. Tapi putranya itu telah bersumpah tidak ingin menjadi raja dan bahkan wadat demi kelancaran bapaknya ketika meminang Durgandini.
Latar belakang hidupnya menjadi alasan Kresnadwipayana semeleh terhadap takhta. Kekuasan bukan segala-galanya. Namun, ia bersungguh-sungguh menjunjung tinggi mandat, mengemban amanah. Selama kepemimpinannya, Astina tambah maju serta disegani bangsa dan negara lain.
Keberhasilannya itu tidak kemudian membiusnya terlena untuk terus ingin memimpin hingga sampai berperiode-periode. Tiada kejemawaan bahwa dirinya hebat lalu memantaskan diri untuk langgeng berkuasa. Memang ada nayaka praja dan sentara dalem yang mendorong agar tetap memimpin, tetapi ditolak.
Putra terbaik
Ketika merasa usianya telah merambat sepuh dan ketiga putranya beranjak dewasa, Kresnadwipayana eling bahwa waktu meletakkan jabatan telah tiba. Takhta harus segera diberikan kepada generasi penerus lewat peralihan kekuasaan yang baik.
Ketika memilih pemimpin berikutnya, Kresnadwipayana yang memiliki hak prerogatif, melakukan langkah yang tidak umum juga. Menurut paugeran, yang telah berjalan dari generasi ke generasi, putra sulung raja sebagai penerusnya. Tapi, konstitusi itu bukan harga mati.
Dari ketiga istrinya, Kresnadwipayana memiliki tiga putra, Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Dengan mempertimbangkan segala aspek serta memohon petunjuk dari sang Maha Pencipta, Pandu yang dipilih jadi penggantinya. Putra keduanya itu dinobatkan menjadi raja bergelar Prabu Pandudewanata.
Tidak ada gejolak dengan keputusan itu. Drestarastra sebagai putra sulung dan menjadi putra mahkota legawa tidak menjadi raja karena menyadari kekurangannya, matanya tidak bisa melihat (buta). Sementara itu, Yama Widura menyatakan patuh terhadap keputusan bapaknya.
Setelah menetapkan raja baru, Kresnadwipayana segera kembali ke Pertapaan Ratawu di Sapta Arga. Di ‘istana’ lamanya itu, wong agung itu madeg, mengikhtiarkian diri menjadi pandita, guru bangsa bergelar Begawan Abiyasa.
Sebelum meninggalkan istana Astina, Abiyasa berpesan kepada putra-putranya untuk selamanya memelihara kerukunan. Jangan bertikai, saling menjatuhkan hanya karena berebut kekuasaan. Dirinya akan memantau dari jauh dan memberi saran dan nasihat bila diperlukan.
Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan radikal ketika istana tersusupi unsur lain. Kerukunan keluarga besar Astina retak atas aksi-aksi bawah tanah Suman alias Sengkuni, adik ipar Drestarastra. Adik Gendari itu menjadi biang keladi atas disharmoni para cucu Abiyasa.
Sengkuni ‘memoles’ keponakannya, Kurawa, menjadi insan-insan haus kekuasaan dan bengis. Putra-putri Drestarastra-Gendari itu menjadi para pembenci Pandawa yang tidak lain adik sepupunya sendiri. Pandawa yang terdiri dari lima anak laki-laki itu adalah putra Pandu dengan dua istrinya, Kunti dan Madrim.
Watak zalim Kurawa kian menjadi-jadi pasca meninggalnya Pandu yang menjadi korban fitnah Sengkuni. Bukan hanya menjatuhkan, menjegal atau membenci, Kurawa yang diotaki Sengkuni terus mengambil langkah politik untuk membasmi Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.
Tidak diindahkan
Pesan serta wanti-wanti sang Abiyasa kepada generasi penerusnya agar selalu menjaga kerukunan telah menguap dari bumi Astina. Antarkomponen bangsa, para cucunya terus bertikai berebut kekuasan. Kurawa sumber kehancuran persatuan.
Ketika Pandawa mengalah dengan mendirikan nagara sendiri, kebencian Kurawa tidak hilang. Mereka menjelma menjadi manusia-manusia serigala. Tidak ada sedikit pun darah ‘wong agung’ Abiyasa yang mengaliri jiwa mereka. Pada akhirnya kisah perseteruan mereka teradili dalam Bharatayuda di Kurusetra. Abiyasa sedih wasiatnya tidak diindahkan cucu-cucunya hanya karena kekuasaan. Apa boleh buat, kodrat itu mesti terjadi meski terasa mengiris hati.





