Ono Sarwono (Kader NasDem)
PRESIDEN Jokowi dalam acara ulang tahun sebuah parpol mengingatkan agar tidak sembrono mencalonkan pemimpin negara. Menentukan capres dan cawapres itu harus cermat, teliti, dan hati-hati. Namun, jangan karena alasan itu lantas terlalu lama mendeklarasikannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sembrono itu antara lain berarti kurang hati-hati, gegabah, ceroboh, sembarangan, kurang pantas. Berdasarkan pengertian itu, jangankan mencalonkan pemimpin, dalam segala hal seyogianya kita tidak boleh sembrono.
Elite istana Negara Pancala pernah dianggap sembrono ketika memilih raja bukan dari trah raja. Bahkan, menurut kisahnya, raja itu nonpribumi dan bukan warga negara asli Pancala. Tapi, benarkah dipilihnya ‘orang asing’ itu langkah sembrono?
Menjadi raja
Pada suatu ketika, Pancala dirundung duka atas berpulangnya sang raja Prabu Gandabayu. Selain adil dan bijaksana, sang pemimpin dikenal bersahaja dan sangat mencintai rakyat. Dari pusat hingga ke pelosok rakyat hidup ayem tenteram.
Berdasarkan paugeran (aturan) turun-temurun, yang berhak menggantikan sebagai raja adalah putra mahkota. Dari perkawinan dengan Dewi Gandarini, mendiang Gandabayu memiliki dua anak, yakni Gandawati dan Gandamana.
Menjadi persoalan, ketika Gandamana, putra mahkota, emoh duduk di singgasana raja. Ia memilih mengabdi kepada Raja Astina Prabu Pandu Dewanata. Pilihannya itu atas dasar kekagumannya terhadap Pandu yang kaya ilmu dan sakti mandraguna.
Gandamana menimba ilmu dan mengabdi di negara asing itu sebelum sang ayah meninggal. Sang guru, Pandu, mengapresiasi kecerdasan serta kesetiaan muridnya. Cepat menyerap ilmu dan aji kasantosan (kedigdayaan) yang diberikan. Murid kesayangannya itu kemudian diberi jabatan patih.
Kekosongan singgasana Pancala memaksa para sesepuh, sentana dalem, serta para nayaka praja segera berembuk. Tidak bertele-tele dan akhirnya semua sepakat mempromosikan Sucitra, menantu mendiang raja, menjadi pemimpin berikutnya.
Sucitra adalah suami Gandawati. Perjodohan mereka atas inisiatif Pandu yang disambut Gandabayu dan keluarga dengan senang hati. Sudah lama Pancala bersahabat sangat akrab dengan Astina. Saking eratnya, hubungan antarkedua pemimpin seperti saudara kandung.
Tidak ada keraguan Gandabayu terkait dengan kualitas kepribadian Sucitra. Meskipun juga tidak tahu asal usul serta siapa orangtua menantunya itu, tapi karena rekomendasi dari Pandu, ia yakin bahwa Sucitra bukan lelaki sembarangan.
Setelah segala persiapan paripurna, Sucitra dinobatkan menjadi raja baru Negara Pancala bergelar Prabu Drupada. Dari pernikahannya dengan Gandawati, lahirlah dua putri dan satu laki-laki, yakni Drupadi, Srikandi, dan Drestadyumna.
Pancala kian kuncara
Sucitra ialah salah satu murid Pandu. Raja Astina ini memang terbuka bagi siapa saja yang ingin meguru dan mengabdi di Astina. Namun, tidak semua pelamar diterima. Dari mata batinnya, ia menyeleksi, tahu siapa yang benar-benar ingin belajar dan menjadi kesatria sejati.
Dari garis keturunan, Sucitra ialah anak Dupara, rakyat biasa di Hargajembangan. Semasa remaja hingga dewasa tekun nyantrik (belajar) kepada Resi Baratwaja. Ia berteman akrab dengan putra sang resi yang bernama Bambang Kumbayana.
Setelah merasa tuntas menyesap seluruh ilmu yang diberikan sang resi, Sucitra pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu yang lebih tinggi. Tujuannya ke Astina dan berharap bisa menjadi siswa sang raja Pandu Dewanata.
Tidak ada yang tahu bagaimana Sucitra bisa sampai di Astina, negara besar dengan wilayah sangat luas yang sebelumnya hanya didengar dari kabar. Jarak dari Hargajembangan ke Astina pun sangat jauh dan dipisahkan samudra. Beruntung sang pengelana tidak salah jalan.
Keberuntungannya bertambah karena setibanya di Astina tidak sia-sia. Pandu menerima lamaran pengabdiannya. Dalam perkembangannya, Sucitra menjadi satu di antara beberapa gelintir murid terbaik Pandu. Di sanalah Sucitra berkenalan dengan Gandamana yang kemudian menjadi adik iparnya.
Pihak-pihak yang semula menilai bahwa dipilihnya Drupada merupakan kesembronoan pada akhirnya terbantahkan. Berbekal ilmu dari Pandu, terutama ilmu pemerintahan dan tata kelola negara, ‘orang asing’ itu membawa Pancala menjadi makmur dan kuncara.
Drupada pun mampu merajut hubungan Pancala dengan Astina jauh lebih erat ketimbang sebelumnya. Itu terus terjalin baik hingga Pandu meninggal dunia. Gurunya itu berpulang akibat hasutan Sengkuni. Gandamana pun menjadi korban fitnah adik ipar Drestarastra itu.
Sejak takhta Astina dirampas Duryudana (Kurawa), hubungan Pancala dengan negara tersebut merenggang. Dalam hati dan batinnya, Drupada ingin terus menjalin kekerabatan dengan lima putra Pandu, Pandawa, yang dinistakan Kurawa.
Janji jadi tumbal
Drupada akhirnya bertemu Pandawa ketika Pancala menggelar sayambera perang. Siapa yang mampu mengalahkan Gandamana berhak memboyong Dewi Drupadi. Ini memang siasat Gandamana untuk menemukan Pandawa yang dikabarkan tidak jelas nasibnya setelah terusir dari istana Astina.
Dalam sayembara itu, Bratasena, panengah Pandawa, menang perang melawan Gandamana. Drupadi, putri boyongan, diberikan kepada Puntadewa, kakaknya, sebagai permaisuri. Meski kehilangan adik ipar, Drupada bersyukur bisa bersua dengan lima putra gurunya itu.
Sebagai balas budi atas segala kebaikan Pandu, Drupada berjanji jika kelak pecah perang Bharatayuda, dirinya siap menjadi tumbal Pandawa di medan laga. Bharatayuda ialah peperangan antara Pandawa dan Kurawa sebagai arena pembuktian bahwa kebaikan unggul atas kezaliman.


