JATENG.NASDEM.ID – Novel Maria karya Sekretaris DPD NasDem Kota Semarang Kak Much Taufiqillah Al Mufti untuk kesekian kalinya dibedah. Kali ini, bertempat di Kantor DPW NasDem Jawa Tengah, Minggu (23/1) siang. Hadir sebagai pembicara dalam bedah novel tersebut Kak Mufti bersama sorang penyair Mugi Astuti.
Kak Mufti dalam pengantarnya mengatakan secara lugas bahwa novel karyanya berbeda dengan novel yang lain.
“Kita tidak tahu jalan Tuhan, jangan sampai hidup Ibu menjadi sia-sia, sehingga kemudian saya membuat novel ini,” kata Kak Mufti.
Diilhami oleh almarhumah ibunda, Kak Mufti mengaku bahwa salah satu keputusannya untuk terjun ke dunia politik juga adalah berkat motivasi sang ibu. Ia pun ingin mengabadikan ibunya lewat tulisan novel tersebut.
“Ibu saya juga yang memberikan motivasi agar saya terjun ke politik. Karena ini menceritakan terkait keluarga, tentu novel ini ada beberapa tekanan. Namun keluarga sendiri mendukung penuh,” ia bercerita.
Penyair Mugi mengatakan novel Maria karya Kak Mufti merupakan novel yang sangat jujur meskipun tidak memuaskan ego pembaca. “Bagi saya Maria adalah novel perlawanan yang membawa kita berkaca dan merenung tentang pentingnya sebuah keluarga, tempat anak-anak dibesarkan,” katanya.
Ia menilai bahwa novel dengan 30 bab ini merupakan bacaan yang ringan. Di dalamnya terdapat hikayat-hikayat bagaimana sebuah keluarga harus membesarkan seorang anak.
“Maria membawa model pengasuhan kita pada anak-anak kita kelak, apakah kita hanya akan memberikan mereka materi, atau harapan dan pengertian kepada mereka,” Kata Mugi menganalisis.
Mugi menjelaskan bahwa novel ini secara tidak langsung juga berisi terkait pengasuhan. “Dalam novel ini kita bisa berkaca bahwa sebuah keluarga bisa mempengaruhi karakter anak-anak dalam berhubungan dengan orang lain di kemudian hari,” katanya.
Kak Mufti yang merupakan mantan aktivis mahasiswa ini, berencana segera menuliskan karya novel keduanya. Untuk itu, ia mendorong kepada para generasi muda untuk tak takut berkarya.

