NASDEM.JATENG.ID – Selama pandemi Covid-19, angka stunting cenderung naik, termasuk di Kabupaten Banyumas, yakni 14,2 persen. Para kader Posyandu, punya peran penting dalam melakukan pencegahan stunting, atau gangguan tumbuh kembang anak. Tentu ini dengan berbagai aktivitas Posyandu yang sudah terprogram.
Anggota DPRD Kabupaten Banyumas Kak Djadjat Sudradjat mengatakan hal itu di tengah kegiatan masa reses, Sabtu (15/1). Kegiatan reses yang berlangsung di Ciwera, Sawangan, Kedung Gede, dipusatkan di Posyandu Kecamatan Lumbir yang dihadiri oleh para kader Posyandu, para kepala dusun, ketua RW, Ketua RT, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat.
Lumbir merupakan salah satu dari empat kecamatan selain Gumelar, Pekuncen, dan Ajibarang, yang berada di dapil 5. Kebetulan Kak Djadjat yang terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyumas pada Pemilu 2019, berasal dari dapil ini.
Ketua DPD NasDem Banyumas itu mengutip hasil penelitian peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) Dinda Srikandi Radjiman. Disebutkan bahwa Posyandu terbukti dapat berfungsi secara komprehensif sebagai pendeteksi awal, penanganan, pencegahan, serta konsultansi yang dilakukan oleh kader Posyandu.
Tapi sayangnya, kata Kak Djadjat, pemerintah belum memberikan perhatian serius pada kader Posyandu. Mereka mendapatkan imbalan sangat kecil alias tidak memadai. Karena itu, Kak Djadjat akan memperjuangkan agar kader Posyandu mendapat apresiasi dan imbalan yang sesuai untuk tugas yang penting itu.
Menurut data secara nasional, kini ada 2 juta balita yang mengalami stunting. Dan tentu saja di desa-desa, para kader Posyandu punya peran yang amat penting seperti disebutkan oleh peneliti Universitas Indonesia itu.
Kak Djadjat sengaja memilih Posyandu agar tahu bagaimana kondisi gedung dan sarana penunjangnya. Ia juga ingin tahu bagaimana para kader bekerja, serta ingin mendapatkan informasi bagaimana MCK warga di setiap RT dan RW. Karena di pedesaan aktivitas Posyandu bisa menjadi tolok ukur kesehatan balita dan wanita.
Ia juga mengapresiasi tinggi kepada para kader Posyandu, yang umumnya bekerja serius meski hanya mendapat imbalan materi yang amat sangat sedikit. “Para kader Posyandu itu ujung tombak kesehatan balita, wanita, dan lansia di desa-desa. Mereka sama sekali tidak melihat apa yang didapat tapi bagaimana supaya balita, wanita, dan lansia bisa sehat,” puji Kak Djadjat kepada para kader Posyandu.
Ia meminta para kader Posyandu terus menyosialisasikan hidup bersih di lingkungannya masing-masing. Karena kebersihan lingkungan juga akan menentukan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Berkah atau bonus hidup di pedesaan itu, adalah udara segar jauh dari polusi. Masih banyak yang berjalan kaki ke kebun atau ke sawah. Ini juga, kata Kak Djadjat yang juga mantan jurnalis, sebagai modal kesehatan warga yang baik.
Bangsa yang sehat, ia menekankan, akan ditentukan sejak sang jabang bayi dalam kandungan. Para ibu hamil mendapat asupan gizi yang memadai atau tidak. Begitu juga setelah melahirkan, sang ibu dan sang bayi harus mendapat asupan gizi terbaik. Karena itu akan berdampak pada tubuh dan otak bayi. Otak yang mendapat asupan gizi terbaik akan berdampak positif pada kecerdasan sang anak.
Anak yang sehat secara fisik dan pikiran, harus didukung oleh sarana pendidikan memadai pula. “Anak yang tumbuh sehat dan cerdas, tapi tidak mendapat pendidikan terbaik, kemampuan maksimalnya tidak bisa berkembang,” Kak Djadjat menegaskan.
Ia pun meminta para orang tua untuk berupaya sekuat tenaga mengupayakan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Karena masa depan akan ditentukan kualitas SDM-nya. “Dengan SDM yang berkualitas tinggi, kita akan bisa melakukan yang terbaik bagi diri sendiri dan bangsanya,” katanya.
Sebagai anggota dewan, Kak Djadjat akan mendorong semaksimal mungkin upaya kesehatan masyarakat dan pendidikan. Tentu sesuai tugas dan fungsinya, yakni legislasi, pengawasan, dan anggaran.
Di akhir acara anggota dewan Banyumas itu meminta masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat karena pandemi belum benar-benar berlalu. Kini telah pula datang varian Omicron yang penyebarannya sangat cepat.

