JATENG.NASDEM.ID – Dedikasi para guru dalam mendidik para siswa tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam kondisi pandemi Covid-19, para guru bisa bertransformasi dan menyesuaikan kondisi sehingga tetap bisa memberikan pelajaran kepada para siswa.
Hal tersebut diapresiasi anggota Komisi IX DPR RI Kak Fadholi. ”Kami memberikan penghargaan kinerja para guru, para guru kini telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam memberikan pendidikan dan pendampingan untuk generasi kita yang bisa mewarisi nilai-nilai luhur,” kata Kak Fadholi kepada para pendidik di Kota Semarang, beberapa waktu lalu.
Kerja keras para guru ini, sambung Kak Fadholi, harus mendapat perhatian pemerintah. Terlebih berbagai permasalahan yang ditemui guru di sekolah yang terlalu berlebihan. Menurut laporan Dewan Pendidikan Kota Semarang, para guru memiliki beban mengajar yang terlalu berat.
“Sistemnya sudah baik, tapi contohnya guru sekarang disibukkan dengan mengajar saja. Sampai guru nggak bisa mengurus pangkatnya sendiri, waktu mereka habis untuk mengajar,” Ketua Dewan Pengajar Kota Semarang Budiyanto mengeluhkan.
Selain kehabisan waktu untuk mengurus kenaikan pangkat dan administrasi guru sendiri, kondisi ini menyebabkan guru tidak punya waktu untuk memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai kebangsaan pada anak didik demi meningkatkan aspek kognitif.
“Saya sangat prihatin melihat kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga pendidikan karakter ini harus diseriusi. Bukan hanya berdampak pada kognitif, tapi juga afektif,” ia menekankan.
Untuk itu, ia juga meminta agar Menteri Pendidikan segera meninjau ulang Kurikulum 2013. Agar pendidikan karakter dan nilai-nilai kebangsaan bisa menjadi satu aspek yang dititikberatkan dalam pendidikan anak.
Menanggapi hal ini, Kak Fadholi sepakat agar pemerintah memberikan perhatian pada jam kerja guru yang nantinya akan berdampak pada berbagai hal termasuk kesempatan yang lebih luas untuk memberikan pendidikan karakter.
“Harus ada peninjauan kembali jam mengajar para pengajar 36-40 jam, guru lebih banyak memberikan aspek kognitif. Tentu akan kita sampaikan pada seluruh jajaran yang terkait,” ujarnya.
“Kami sepakat untuk memberikan pendidikan karakter dan kebangsaan sejak dini pada ranah pendidikan formal, informal, dan nonformal. Agar anak tidak hanya diberikan aspek kognitif tapi pada pendidika

