JATENG.NASDEM.ID – Minimnya keterwakilan perempuan di parlemen sangat berpengaruh pada kebijakan yang berpihak kepada kepentingan perempuan. Jumlah legislator perempuan pun bisa dihitung dengan jari. Bahkan seperti di DPRD Wonosobo hanya memiliki 2 anggota dewan perempuan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi politisi perempuan dalam kancah pertarungan politik.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Garnita Malahayati Wonosobo Murniyati saaat Musdalub KPPI (Kaukus Politisi Perempuan Indonesia) Kabupaten Wonosobo, yang berlangsung di RM Gayatri, Jumat ( 10/9). Acara dihadiri oleh para politisi perempuan lintas partai, perwakilan Garnita menyoroti ‘kengototan’ para politisi perempuan yang dinilainya masih kurang.
“Kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa kaum perempuan belum memiliki keberpihakan pada politisi perempuan. Buktinya, jumlah anggota dewan dari perempuan sangat minim. Padahal jumlah yang minim akan sangat berpengaruh pada penyusunan kebijakan,” ujar Kak Murni yang diamini oleh para peserta Musdalub.
Ketika bicara masalah anggaran, Kak Murni menjelaskan, bahwa tampak sekali perempuan selalu kalah dalam pengambilan keputusan. Karena memang mayoritas dewan didominasi oleh kaum pria. “Coba deh kalau para perempuan itu mensupport wakilnya sesama perempuan, pasti kondisi akan berbeda, karena keberpihakannya pastilah terlihat,” ujar Kak Murni menekankan.
Keterwakilan 30 persen perempuan seharusnya tidak sekedar retorika semata demi pemenuhan kuota perempuan. Namun partai setidaknya mau memberikan ruang dan dukungan bagi caleg perempuan yang potensial. Salah satu caranya dengan memberikan support perhatian dan anggaran saat kontestasi sehingga mampu berbicara banyak dan meraih dukungan yang optimal.
Demi mendukung pendidikan politik untuk perempuan, Garnita Malahayati rutin turun ke masyarakat secara informal untuk menerikan informasi terkait politik. “Garnita selalu mendorong pendidikan politik bagi perempuan, yang bertujuan untuk memberikan penyadaran hak hak berpolitik bagi perempuan,” Terang Kak Murni.
“Bahkan era sekarang mengharuskan perempuan melek politik. Selama ini Garnita Wonosobo menggunakan forum warga secara informal untuk menyampaikan pesan partai dan juga memberikan pendidikan politik,” terangnya.
Tak hanya memberikan pemahaman politik saja, Garnita Malahayi juga mendorong keterlibatan politik para perempuan. Dengan berbagai program pemberdayaan, Garnita bukan hanya mengajak perempuan untuk menggunakan dan terlibat dalam berbagai proses politik di lingkungan terkecil sekalipun.
Tidak seperti kondisi sekarang, kebanyakan caleg perempuan hanya sebagai pelengkap kuota semata. Musdalub KPPI Kabupaten Wonosobo dimaksudkan untuk pergantia Ketua Hj Sundiyah yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Kemudian terpilih sebagai Ketua KPPI Wonosobo Nuke Maya yang sebelumnya menduduki posisi sebagai Wakil Ketua. (NJ25)

