JATENG.NASDEM.ID – Jawa Tengah dikenal sebagai basis partai ‘merah’ dengan ideologi kebangsaan yang begitu kental. Selain itu, masyarakat Jawa Tengah juga ada kecenderungan memihak kepada partai dengan corak keagamaan.
Hal ini menjadi tantangan berat bagi Partai NasDem yang masih tergolong muda. Namun, gagasan gerakan restorasi, membuat partai besutan Surya Paloh ini memberikan warna baru perpolitikan di Indonesia sekaligus mencuri perhatian masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Wasekjen Ideologi, Organisasi, dan Kaderisasi DPP Partai NasDem Dedy Ramanta, bahwa gerakan restorasi ini menjadi angin segar bagi siapa saja yang ingin Indonesia kembali pada cita-cita awal.
“NasDem gagasan besarnya adalah restorasi atau mengembalikan kepada cita-cita awal. Ini sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pendiri bangsa terkait konstitusi. Demokrasi liberal sudah terlalu jauh membuat kita kehilangan norma,” ujarnya, Senin (2/8).
Untuk itu, ia mendorong pada seluruh pengurus agar menggaungkan semangat Partai NasDem itu di tengah-tengan masyarakat di manapun berada. Kakak Dedy berpandangan bahwa Jawa Tengah menjadi wilayah potensial untuk meraup suara, tetapi salah satu yang menjadi kendala adalah masyarakat yang berada di pedesaan (rural area).
Meski sulit dijangkau, tetapi dengan pembentukan struktur hingga tingkat terbawah, menurutnya dapat merebut simpati warga. Setelah struktur terbentuk mulailah untuk menyosialisasikan visi misi partai dengan mekanisme kekerabatan yang masih dipegang teguh bagi masyarakat Jawa terutama oleh masyarakat di pedesaan.
“Sosialisasinya tak perlu jauh, pakai saja basis kekerabatan. Jika sekarang masih mentok maka berarti belum menghidupkan tombol kekerabatan. Maka ini harus disubmit dalam sistem kepartaian. Untuk itu selalu saya sampaikan bahwa yang paling potensial untuk kita rekrut adalah keluarga dan sahabat terdekat,” Kak Dedy menjelaskan.
Dalam pengamatan Kak Dedy, sistem kekerabatan di Jawa sangatlah erat sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh partai. “Di Jateng sistem kekerabatan sosial itu baik. Diakui atau tidak. Tanpa itu masyarakat di Jawa pasti rapuh. Itu yang membuat masyarakat bertahan dan maju. Di pedesaan begitu. Relasi masyarakat pedesaan dan perkotaan dipengaruhi urbanisasi. Hal ini harus dilihat dan dimanfaatkan partai,” katanya.
Bahkan, ia menambahkan kini pengurus tinggal menyodorkan dokumentasi kegiatan partai sebagai bahan sosialisasi. Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan untuk masyarakat, Kak Dedy yakin tak ada yang bisa menolak NasDem. “Sekarang kan kita punya alat untuk sosialasi. Kita tunjukkan apa yang akan dilakukan oleh NasDem, kerja-kerja NasDem yang dilakukan oleh partai dan dewan, kenapa harus pilih NasDem. Mulai dari itu,” katanya menegaskan.
Meski begitu, masyarakat harus memiliki analisis sosial yang tinggi jika ingin mendekati kelompok masyarakat tertentu mengingat tiap masyarkat memiliki karakteristik masing-masing. Apalagi, di masa seperti ini, bagi masyarakat yang masih memegang teguh budaya Jawa maka akan sulit untuk direkrut jika tidak ditemui secara langsung.
Untuk mengatasi hal ini, Kak Dedy berpendapat bahwa pengurus dapat fokus kepada generasi milenial dan masyarakat yang sudah akrab dengan teknologi. Sehingga komunikasi dan sosialisasi dapat dilakukan lewat media sosial.

