JATENG.NASDEM.ID – Salatiga menjadi salah satu wilayah dengan lonjakan kasus Covid-19 cukup tinggi. Berdasarkan
data dari laman corona.salatiga.go.id per Selasa (13/7), terdapat 987 orang yang terkonfirmasi positif Corona dengan penambahan kasus sebanyak 55 orang. Salatiga masuk zona orange Covid-19.
Ketua DPD NasDem Kota Salatiga Dandan Febri H mengatakan kondisi tersebut menuntut siapa saja untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Ia mengatakan tingkat kematian dan penambahan pasien Covid-19 naik 10 kali lipat. Dandan mengaku cemas terlebih banyak pengurusnya yang terkonfirmasi positif Covid-19.
“Pengurus banyak yang terpapar Covid-19, atau lingkungan tempat tinggalnya banyak yang di-lockdown lokalan akibat warga sekitarnya banyak terpapar Covid-19,” ujarnya, Rabu (14/7).
Sesuai dengan instruksi Ketua DPW NasDem Jateng, Kak Dandan mengatakan telah berkoordinasi terkait kondisi terkini para pengurusnya. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh para pengurus yang terpaksa harus menjalani isolasi mandiri karena penuhnya ruang inap rumah sakit.
“Banyak yang isoman di rumah masing-masing akibat rumah sakit maupun puskesmas sudah over load kapasitas daya tampungnya,” Kak Dandan menjelaskan.
Kondisi ini membuat kegiatan NasDem Salatiga terpaksa ‘libur’ dan fokus untuk membantu para pengurus dan kader yang tengah terdampak. Terlebih menurut kak Dandan, banyak warga yang menutup diri dan enggan bersosialisasi dengan pihak luar karena takut terjangkit virus Corona.
Sementara itu, di wilayah Salatiga juga banyak lingkungan yang melakukan lockdown. Tentu kondisi ini membuat performa partai dalam melakukan perekrutan anggota menjadi lesu.
“Sementara ini, hanya bisa berdoa agar pandemi segera berakhir dan fokus membantu kader maupun warga yang terdampak Covid-19, baru setelah itu pendekatan merekrut mereka agar dengan ikhlas menjadi kader NasDem,” katanya.
Mengatasi kebuntuan akibat pandemi, Kak Dandan tetap melakukan pendekatan dengan mengandalkan media komunikasi melalui WhatsApp. Ia mengakui komunikasi menjadi kurang maksimal karena tidak bisa menyampaikan visi dan misi partai secara leluasa, termasuk tentu saja soal ‘nguwongke’ calon simpatisan atau kader yang dihubungi.

