JATENG.NASDEM.ID – Lembaran baru dibuka Pipik Dewi Susana pada tahun 2017, jelang perhelatan Pemilu 2019. Istri dari anggota Polri itu mengambil keputusan ‘hijrah’ tidak hanya berstatus ibu Bhayangkari tetapi sekaligus sebagai politikus.
Pipik ingat betul, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya. Tetap hanya menjadi istri polisi yang tergabung dalam organisasi Bhayangkari, atau memberanikan diri mengepakkan sayap di dunia politik, pengabdian yang sangat baru.
“Saya cukup lama berunding dengan suami. Justru saya yang kadang-kadang kurang bersemangat, buat apa terjun politik toh di Bhayangkari juga sudah bisa berbuat sesuatu. Namun suami meyakinkan, bahwa saya memiliki telenta lebih yang bisa diberdayakan untuk memperbaiki kondisi masyarakat,” kata Pipik dalam perbicangan dengan JATENG.NASDEM.ID, Jumat (7/5).
Penguatan suami yang merupakan anggota polisi aktif itu, menjadikan vitalitas Pipik membuncah. “Akhir tahun 2016, saya mulai mempelajari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai-partai politik yang akan berlaga di Pileg 2019. Kami juga membaca pemberitaan sepak terjang partai politik beserta kader-kadernya, dan dimantapkan lewat forum diskusi dengan sejumlah kolega,” katanya.
Akhir dari penelusuran itu, Pipik memilih Partai NasDem sebagai tempat berlabuh atas pilihan jalur politiknya. “Saya sampai pada keputusan menambatkan pilihan kepada NasDem. Saya sangat kagum dengan figur Pak Surya Paloh, beliau sangat mengilhami saya dalam menjalani hidup baik sebagai warga negara maupun sebagai politikus,” ujarnya.
Saat menapaki hidup baru sebagai politikus, Sarjana Hukum itu mengaku mengalami kesulitan. β”Panggung politik sangat membingungkan,” ujarnya mengenang pengalaman empat tahun lalu.
Sebagai anggota Bhayangkari, Pipik selalu ingat prinsip harus bersikap netral dan tidak memihak. “Sebaliknya sebagai politisi, saya harus seratus persen mendukung dan membela partai saya, NasDem. Maka jadilah, jiwa saya juga seratus persen NasDem tetapi juga seratus persen Bhayangkari,” katanya berfilosofi.
Ia menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2017 dan awal 2018, merupakan masa-masa yang sangat cangung dalam kehidupannya. ββTemen-temen saya sesama caleg NasDem sudah bergerak, pidato sana pidato sini. Sementara saya masih berkutat pada kebingungan dalam melakoni dua dunia itu,ββ ujarnya.
Namun kebimbangan itu tidak berlarut, dengan sebuah tekad bahwa tidak akan membawa dunia ke-Bhayangkari-an di panggung politik, juga sebaliknya. “Dua dunia saya dipisahkan oleh garis api,” ujarnya tersenyum.
Pipik sangat menjaga agar profesi suami tidak terkena imbas dari keputusan terjun di politik. ββMaka langkah pertama saya adalah mengajukkan izin kepada pimpinan suami untuk diperbolehkan terjun ke dunia politik menjadi calon anggota legislatif,ββ ia menjelaskan.
Setelah izin keluar, ia pun rajin berkonsultasi dengan para senior di tempat kesatuan suami bergabung. “Waktu itu saya benar-benar mendapatkan banyak sokongan dan bantuan semangat dari senior Bhayangkari di unit suami saya mengabdi,ββ katanya.
Pipik dipercaya oleh Partai NasDem untuk berlaga di dapil lima untuk memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Magelang. ββSaya bersyukur pada Allah juga berterimakasih kepada jajaran kepolisian dan teman-teman NasDem, telah diberi kesempatan,” ia menambahkan.
Ia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Magelang dalam Pileg 2019. Kini, ia melakoni banyak peran tidak hanya sebagai perempuan polikus tetapi juga istri dari anggota Polri Budi Purnomo, sekaligus membesarkan dua anak.
“Saya bersyukur bisa melakoni peran sebagai ibu rumah tangga, anggota Bhayangkari, anggota DPRD Kabupaten Magelang, dan pengurus DPD NasDem Kabupaten Magelang,ββ ujarnya menutup percakapan.
