JAKARTA — Pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia, Silvanus Alvin, menilai Presiden Joko Widodo terkadang membiarkan saja kampanye negatif yang ditujukan kepadanya. Kadang ada pula yang Jokowi komentari sebagai wujud ketegasan menghadapi persoalan.
Namun, menurut Alvin seperti dikutip Antara pada Jumat (27/4), setidaknya ada tiga gaya komunikasi politik yang diterapkan Jokowi dalam merespons kampanye negatif. Pertama yakni counter-imaging atau kontra pencitraan.
”Dalam hal ini, apabila ada kampanye negatif, Jokowi bersama tim medianya maupun relawan berusaha untuk mengirim pesan-pesan positif ke masyarakat,” katanya. “Misalnya, pesan berupa keberhasilan-keberhasilannya dalam membangun wilayah luar Indonesia.”
Baca Juga : Presiden Jokowi Di Rapat Pleno KTT ASEAN: Waspadai Serangan Siber
Kedua, ‘denial’ atau bantahan. Contohnya, kata Alvin, salah satu kampanye negatif terkait isu PKI yang pernah menyerang Jokowi dan sekarang berusaha digulirkan kembali.
“Pada awalnya, Jokowi enggan merespons. Namun, pada 6 Maret 2018 lalu, Jokowi memberikan bantahan dengan menegaskan bahwa dirinya lahir pada 1961, sedangkan PKI dibubarkan 1965, sehingga tidak mungkin dirinya yang masih balita pada saat itu terkait dengan PKI,” kata dia.
Gayak ketiga yakni ‘counterattack’ atau serangan balik. Menurut Alvin, bila diibaratkan dengan seorang petinju, Jokowi mampu menerapkan gaya Muhammad Ali.
Alvin menekankan kampanye negatif memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab jika dibiarkan, isunya akan semakin liar dan sulit diatasi. Namun, diperlukan kejelian untuk menentukan kapan harus mengklarifikasinya.
SUMBER: http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/18/04/28/p7ukm4257-tiga-gaya-jokowi-merespon-kampanye-negatif


