JATENG.NASDEM.ID – Wasekjen Pemenangan Pemilu DPP NasDem Kak Jakfar Sidik menjadi bintang tamu dalam sarasehan bertajuk ‘Estetika dan Politik dalam Perspektif Kesenian’. Kegiatan digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, Sabtu malam (19/3).
Menjadi moderator dalam acara tersebut anggota DPRD Kota Pekalongan dari Partai NasDem Kak Isnaeni Rukhullah Khumaini.
Kak Jakfar yang merupakan Ketua DPD NasDem Pekalongan menjadi narasumber sarasehan yang digagas oleh kelompok Teater Zenith dari UKM IAIN dengan mengangkat semangat melalui moto berproses selama-lamanya dan menggali ide kreatif sedalam-dalamnya.
Dalam paparannya, Kak Jakfar Sidik menjelaskan bagaimana keterkaitan seni dengan politik dalam sejarah Indonesia.
Bahwa politik dalam perspektif seni, menurut Kak Jakfar Sidik, bukan melulu soal partai politik bukan pula soal pemilu. Akan tetapi keduanya menjadi alat untuk menggerakkan sebuah perubahan.
“Di Indonesia seni dan kebudayaan turut menjadi ide dalam memerdekakan Indonesia. Ada satu gambar atau poster yang sadar tidak sadar begitu terkenalnya hingga mampu mempengaruhi pemikiran para pejuang kemerdekaan,” kata Kak Jakfar Sidik dalam paparannya.
Ia pun menjelaskan bagaimana karya seni berupa poster yang diberi judul ‘Bung Ayo Bung’ dan lukisan berjudul ‘Perundingan’ karya Soedjojono dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Poster itu menjadi awal inspirasi para laskar-laskar, sebelum TNI terbentuk, untuk berjuang demi Indonesia.
Artinya seni di indonesia itu, kata Kak Jakfar Sidik, turut serta dan sangat berperan penting dalam proses kehidupan berpolitik waktu itu.
Kesenian, imbuh Kak Jakfar Sidik, mampu menjadi corong warga negara untuk menyampaikan aspirasi. Seni mengisi ruang-ruang untuk menyampaikan kepada orang-orang bahwa ada situasi-situasi yang tidak tersampaikan.
“Seni mampu menjadi media untuk memberitahukan situasi-situasi sosial yang terjadi kepada orang-orang,” Kak Jakfar Sidik menjelaskan.
Ada juga buku-buku atau novel yang sangat berpengaruh dan menginspirasi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia seperti Max Havelar karya Multatuli.
Dijelaskan bagaimana buku seperti Max Havelar mengilhami seorang Soekarno bahwa kolonialisme di Indonesia harus diakhiri dan belakangan juga melahirkan politik etis atau balas budi.
“Disebutkan dalam novel itu Multatuli yang saat itu menjadi asisten wedana di Lebak melihat langsung penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda kepada rakyat pribumi,” terang Kak Jakfar Sidik.
Di era yang lebih moderen, seni dan politik saling berkaitan, ia menunjukkan ketika ada protes besar di ITB. Saat itu para seniman muda membakar patung Asmat sebagai tanda protes atau perlawanan kepada salah satu oknum dosen.
Sang dosen dikabarkan pernah belajar di Papua lantas banyak membuat karya patung Asmat di ITB. Kemudian dijual ke Eropa dengan hasil keuntungan yang luar biasa sementara warga suku Asmat sendiri keadaannya tidak lebih baik secara sosial.
Belum lagi gerakan renaisance di abad pertengahan yang mengubah era kegelapan menjadi eropa moderen, juga melalui seni dan politik.
“Menurut saya kesenian yang baik itu mengandung yang pertama protes atau kritik terhadap situasi. Yang kedua jika protes tidak cukup maka ia melahirkan pemberontakan. Ketiga, dia memandu orang untuk melakukan perubahan dan yang keempat ia akan melakukan pencerahan,” Kak Jakfar Sidik menyimpulkan.
Di kesempatan yang sama Kak Isnaini Rukhullah Khumaini menambahkan bahwa mahasiswa tidak perlu alergi terhadap politik karena pada kenyataannya percampuran keduanya mampu melahirkan perubahan.
“Harapan saya teman-teman mahasiswa semakin terbuka wawasannya dan mendapatkan pencerahan dari pemaparan Kak Jakfar Sidik. Tadi telah dipaparkan bagaimana hubungan seni dengan politik, bahkan pencampuran keduanya yang bisa menjadi alat untuk melakukan perubahan,” pungkas Kak Isnaeni.

