Ono Sarwono
Kader NasDem
PROBLEM bangsa saat ini adalah banyaknya pejabat negara yang tidak kompeten atau tidak memenuhi syarat kualitas dengan jabatan yang diemban. Akibatnya, selain tidak becus dan gagap dengan apa yang harus dikerjakan, juga lancung dan korup.
Pejabat negara itu posisi strategis dan mulia. Oleh karena itu, orang-orang yang menjabat itu semestinya memiliki persyaratan sesuai dengan kedudukannya. Paling tidak berbekal standar kapabilitas, integritas, dan mentalitas (moralitas).
Pertanyaannya, kenapa tidak memenuhi syarat tapi bisa memegang jabatan formal? Jawabannya, pertama, inilah sisi atau efek negatif dari sistem demokrasi di sebuah bangsa yang belum matang. Kedua, masih suburnya praktik kolusi dan nepotisme.
Berjibunnya kritik itu tidak menyebabkan bobroknya sebuah negara tetapi akibat banyaknya pejabat yang tidak beres. Kini, kabut masa depan negara menggelap sudah tampak. Semestinya itu menggugah kesadaran kolektif kita sebagai bangsa.
Ada sebuah contoh menarik dalam cerita wayang. Kisah orang dusun yang menjadi pejabat tinggi negara karena kepabilitasnya, bukan berkolusi. Orang itu adalah Bambang Sumantri yang menggapai puncak karir sebagai patih di Maespati.
Kemampuan teruji
Syahdan, ada pemuda tampan yang setiap hari tekun menggeladi diri dalam olah fisik dan kebatinan di Dusun Argasekar yang masuk wilayah kedaulatan Negara Maespati. Lelaki cerdas dan berbadan atletis itu bernama Bambang Sumantri.
Kesungguhan menempa diri itu keinginan pribadi, bukan saran atau anjuran dari orang lain, termasuk orangtuanya. Ia putra sulung Suwandagni, brahmana yang konon trah Bathara Surya. Sedangkan ibunya, Dewi Darini, cucu Bathara Sambo.
Sumantri memiliki saudara kandung, Sukrasana. Bedanya, adiknya itu tampak seperti raksasa dan berbadan kerdil. Namun demikian, Sukrasana juga gentur mesu budi  dan laku prihatin sehingga memiliki kesaktian, bahkan melebihi kakaknya.
Suwandagni senang kedua anaknya mengisi dan memanfaatkan hari-harinya dengan suka cita mencerdaskan jiwa raganya. Karena itulah tak sulit baginya menanamkan nilai-nilai keutamaan. Menjadikan anak-anaknya berwatak kesatria dan patriotik.
Seiring berjalannya waktu, Sumantri dan Sukrasana telah mencapai usia dewasa. Keduanya ingin mencari kehidupan masa depan mereka masing-masing. Tapi bapak tidak ada yang tertarik meneruskan profesinya sebagai brahmana atau resi.
Sukrasana yang menyadari ketidaksempurnaan fisiknya, ingin bekerja yang tidak bersinggungan langsung dengan banyak orang. Bapaknya merekomendasi untuk mengabdi kepada Bathara Wisnu di Kahyangan Untarasegara sebagai juru rawat Taman Sriwedari.
Sedangkan Sumantri meminta izin dan restu kepada orangtuanya untuk mencari pekerjaan di kota. Niatnya ingin mempersembahkan jiwa-raganya demi kejayaan negara yang dicintai. Ketika itu, Maespati dipimpin Prabu Arjunasasra.
Suwandagni mendukung keinginan luhur Sumantri. Ia berpesan kepada anak itu untuk selalu memegang teguh watak kesatria. Sedangkan ibunya mewanti-wanti agar selalu eling  dan manembah  (sujud) kepada Yang Mahakuasa.
Sumantri memundi (menjunjung tinggi) nasihat orangtua dengan menjadikannya sebagai ‘pusaka’ perjuangan. Dalam jiwa hanya ada api pengabdian diri bagi bangsa dan negara, bukan keinginan untuk mencari dan menumpuk materi.
Pada saat itu kebetulan negara membuka lowongan bagi para kesatria untuk menjadi nayaka praja . Sumantri memberanikan diri mendaftar dan bersaing dengan calon lain. Ia akhirnya lolos seleksi dan menjadi pegawai magang.
Singkat cerita, Sumantri dikenal sebagai calon amtenar yang menonjol. Prestasinya terdengar Prabu Arjunasasra. Untuk menguji seberapa hebat kesaktiannya, raja memerintahkan Citrawati di Negara Magada untuk dijadikan permaisuri.
Itu tugas sangat berat karena puluhan raja berebut Citrawati. Mereka mesanggrah  (mondok) di alun-alun. Pada saat itu yang duduk di singgasana raja Magada adalah Citragada, adik Citrawati, yang menggantikan ayahnya, Prabu Citradarma, yang lebih panjang karena usia lanjut.
Para raja kepincut Citrawati berkat kecantikannya. Banyak resi yang menyebutnya sebagai perempuan suci trilaksita  (hati, pikiran, dan ucapan). Lebih dari itu, Citrawati adalah titisan Bathari Sri Widowati, dewi kesuburan dan kemakmuran.
Maka, sayembaranya adalah siapa yang unggul dalam adu kesaktian yang berhak memboyong Citrawati. Sumantri menjawab tugas yang diamanatkan Arjunasasra dengan gemilang. Semua pelamar lain dikalahkan, termasuk Prabu Darmawasesa dari Negara Widarba yang kondang ampuh.
Keberhasilan memenangkan Citrawati ternyata belum memuaskan Arjunasasra. Sumantri diuji lagi kedigdayaannya dengan perintah pemindahan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke Maespati. Tugas itu harus rampung dalam semalam.
Sejujurnya Sumantri merasa tak mampu. Di tengah kebingungan dan kegundahan tiba-tiba muncul Sukrasana. Pertemuan itu menjadi momen melepas rindu setelah sekian lama tidak bersua. Sukrasana pun paham kegelisahan kakaknya.
Sukrasana meminta Sumantri tidak miris. Ia mampu membantu mendatangkan Taman Sriwedari ke Maespati dalam waktu singkat. Tidak sekadar omon-omon , apa yang dikatakan benar-benar terjadi. Sumantri terperangah dan berterima kasih.
Namun, Sumantri dipesan agar tak bercerita kepada sang raja siapa di balik adanya taman yang amat indah itu. Ia disarankan mengakui sebagai kinerjanya sendiri. Sukrasana tulus ikhlas membantu sebagai wujud kecintaannya kepada kakaknya.
Menjadi patih
Arjunasasra sangat bangga dan gembira. Tidak ada keraguan lagi mengangkat Sumantri sebagai nayaka praja . Bahkan menjadi warangka dalem  dengan jabatan patih. Karier puncak yang bahkan tidak pernah terbayang Sumantri.
Sejak dipercaya raja, Sumantri yang bergelar Patih Suwanda, menjadi benteng dan andalan negara yang sangat tangguh. Duet kepemimpinan Arjunasasra dan Suwanda menjadikan Maespati negara adidaya, yang adil-makmur dan sejahtera.
Dalam imajinasi KGPAA Mangkunegara IV yang tertuang dalam Serat Tripama , Sumantri memiliki tiga dasar kemampuan sebagai nayaka praja , yakni guna , kaya , dan purun . Secara filosofis berarti memiliki kapabilitas, integritas, dan mentalitas.
Dari kisah singkat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi pejabat itu harus memiliki kompetensi. Selain itu, bagi siapa pun, memilih pejabat atau pemimpin itu harus jeli metani  (menelisik) kemampuannya, bukan nepotisme atau hanya karena mendapat kucuran sembako. (*)

