Ono Sarwono
Kader NasDem
DALAM pernyataannya beberapa waktu lalu Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menaruh perhatian besar terhadap peningkatan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD). Beliau mendorong perlunya pelatihan kualitas guru dan kurikulum yang relevan.
Menurutnya, penting bagi semua anak usia dini mendapat pendidikan dan PAUD merupakan fondasi krusial dalam membangun sumber daya (SDM) manusia unggul. Hal itu sejalan dengan tujuan bangsa mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Dalam cerita wayang, kesadaran pentingnya pendidikan anak sejak dini ada pada diri seorang ibu yang bernama Sembadra. Bahkan, ketika buah hatinya masih dalam kandungan, istri Arjuna itu sudah ‘mendidik’ dengan berbagai tirakat.
Pada akhirnya, anak laki-laki yang dilahirkan dewasanya menjadi kesatria unggul dan pilih tandhing (kompetitif). Berjiwa patriotik, teguh membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Bahkan dari benihnya, lahir raja besar yang amat kondang.
Bertemu Arjuna
Sembadra yang memiliki nama kecil Rara Ireng ialah putri kandung Raja Mandura Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Rohini. Kakaknya lain ibu bernama Kakrasana dan Narayana. Masa kanak-kanak mereka dihabiskan di Dusun Widarakandang.
Dalam asuhan Demang Antagopa dan Ken Sagopi, Rara Ireng tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut, santun, dan berhati mulia. Berparas ayu dan berkulit hitam manis. Badannya semampai, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek.
Ketika terjadi kudeta di Mandura yang dipimpin Kangsa, Rara Ireng mengikuti Kakrasana dan Narayana yang berjibaku memadamkan ontran-ontran tersebut. Pada saat itulah untuk pertama kalinya Rara Ireng bertemu dengan Arjuna.
Ketika itu Arjuna berada di Mandura untuk membantu menyelamatkan singgasana Badudewa yang adalah pakdenya. Kunti, ibu Arjuna, adik Basudewa. Jadi, Rara Ireng itu kakak sepupu Arjuna. Mereka sama-sama cucu mendiang Prabu Basukunti.
Meski saudara sepupu, sebelumnya Arjuna tidak pernah bertemu dengan Rara Ireng. Pada pandangan pertama, panengah Pandawa itu jatuh hati. Persoalannya, apakah mungkin Rara Ireng bersedia menjadi istrinya mengingat masih bersaudara.
Kegalauan hati Arjuna ternyata terbaca Narayana. Ia pun tahu ternyata Rara Ireng juga kesengsem dengan ketampanan adik sepupunya itu. Seiring berjalannya waktu, Narayana menjadi ‘sponsor’ utama berpadunya cinta kedua insan.
Namun ketika itu Kakrasana tidak setuju Rara Ireng dinikahi Arjuna. Alasannya, selain masih sedarah, ia tidak ingin adik kesayangannya dimadu. Tapi sebenarnya ketidaksetujuannya itu karena punya calon lain yang akan dijodohkan dengan Rara Ireng.
Lelaki yang digadang-gadang Kakrasana itu bernama Burisrawa, putra Raja Mandaraka Prabu Salya. Namun masalahnya, Rara Ireng tidak secuilpun memiliki cinta kepada Burisrawa yang banyak diketahui suka mendem alkohol.
Singkat cerita, Rara Ireng menikah dengan Arjuna dalam pesta sederhana. Meski tahu suaminya kemudian suka jatuh cinta kepada wanita-wanita lain, Sembadra tak sakit hati. Ia tetap setia kepada satu-satunya pria yang dicintai hingga akhir hayat.
Ditinggal suami
Pada suatu ketika Pandawa menghadapi persoalan politik serius. Mereka kalah main dadu dengan Kurawa yang mengakibatkan harus menjalani pembuangan di Hutan Kamyaka selama selusin tahun dan ditambah satu tahun menyamar.
Arjuna bersama saudaranya, Puntadewa, Werkudara, Nakula, dan Sadewa terpaksa meninggalkan Amarta dan hidup di belantara. Mereka menjadi korban politik licik Sengkuni yang bertujuan melanggengkan kekuasaan Kurawa di Astina sekaligus merampaas kedaulatan Amarta.
Ketika ditinggal Arjuna, Sembadra sedang hamil. Karena suami pergi dalam waktu yang lama, Sembadra memutuskan tinggal bersama kakaknya, Narayana, yang saat itu sudah menjadi raja Dwarawati bergelar Prabu Sri Bathara Kresna.
Bisa dibayangkan, bagaimana sedih dan pedihnya di kala buah hati masih dalam kandungan tapi suami pergi menjalani hukuman. Sembadra juga sadar betul bahwa ketika oroknya nanti lahir, juga bakal tidak ditunggui suami, bahkan hingga tumbuh menjadi anak remaja.
Namun, Sembadra bukan wanita cengeng yang mudah larut dalam kemurungan. Ia hadapi lelakonnya dengan ikhlas dan tawakal. Dalam bayangannya nanti, dirinya mesti menjadi single parent. Tanggung jawab tak enteng yang takkan terelakan,
Dalam situasi demikian, Sembadra justru menjadikannya sebagai wahana laku prihatin. Fokusnya agar jabang bayi dalam kandungannya kelak menjadi anak anung anindita, maknanya anak yang bisa menjunjung tinggi martabat orang tua.
Dalam bahasa lain, Sembadra sudah mendidik anak ketika masih dalam rahimnya. Lakunya gentur bertirakat secara lahir dan batin. Menjauhkan diri dari hati dan pikiran yang buruk seraya tiada henti memanjatkan doa kepada Sanghyang Widhi.
Berkat tiada hentinya sang ibu mesu budi, atas kehendak dewa jabang bayi yang masih dalam kandungan itu mendapat Wahyu Hidayat. Anugerah itu menjadikan sang anak bisa belajar lewat apa yang didengar, dilihat, dan dilakukan ibundanya.
Setelah usia kandungan sembilan bulan dan sembilan hari, orok lahir laki-laki yang kemudian diberi nama Abimanyu. Dalam bahasa Sanskerta, abhi artinya berani, sedangkan manyu berarti tabiat. Maknanya lelaki yang tidak memiliki rasa takut.
Generasi hebat
Dengan penuh kasih sayang Sembadra menggulawentah putranya dengan nilai-nilai yang sesuai dengan usianya. Prabu Kresna pun turut mendidik Abimanyu. Waktu terus berjalan hingga anak itu tumbuh menjadi kesatria muda remaja berparas tampan.
Abimanyu mewarisi watak ayahnya. Selain pemberani, juga suka bertapa di hutan dan menggeladi diri dalam olah keprajuritan. Meski tidak dibimbing langsung oleh bapaknya, Abimanyu piawai memanah. Pun pintar menggunakan pusaka lain.
Salah satu anugerah dewa yang didapat Abimanyu adalah Wahyu Cakraningrat. Penerima wahyu itu kelak bakal menurunkan raja besar. Menurut kisahnya, Abimanyu yang menikah dengan Utari memiliki anak bernama Parikesit yang menjadi raja di Yawastina.
Demikian kisah singkat cara Sembadra mendidik anak. Ia menyadari begitu pentingnya pendidikan usia dini karena pada periode itulah momentum paling mendasar membentuk karakter anak. Nilai itulah yang bisa kita petik untuk mewujudkan generasi bangsa yang hebat. (*)

