JATENG.NASDEM.ID – Pandemi menjadi tantangan bagi partai politik di Indonesia tak terkecuali bagi Partai NasDem. Kondisi pandemi Covid-19, terlebih penerapan berbagai pembatasan kegiatan masyarakat seperti PPKM Darurat membuat berbagai aktivitas partai mandek.
Dalam situasi normal, berbagai acara kepartaian dilakukan secara tatap muka dan mengumpulkan masa. Selain dapat menunjukkan eksistensi dari partai itu sendiri, kegitan partai secara tatap muka juga lebih efektif.
Pengamat politik Jawa Tengah Dr George Towar Ikbal Tawakkal menilai kondisi pandemi ini membawa dampak serius bagi partai, terutama partai dengan mesin politik yang kurang prima. Untuk itu, penguatan mesin partai hingga tingkat bawah mutlak harus diperhatikan.
Bagi NasDem, penguatan struktur hingga tingkat bawah ini menjadi perhatian serius. Sesuai dengan amanat Rakornasus pada awal 2020 lalu, perlu segera melakukan revitalisasi kepengurusan di tingkat DPW, DPC, dan pembentukan DPRt.
“Sekarang ini kita revitalisasi. Di desa bukan tidak ada, tapi memang kepengurusannya tidak banyak,” ujar Sekretaris DPW NasDem Jateng Kak Alma, sapaan Ali Mansyur HD.
Konsetelasi pasca Pileg 2019 yang berubah, menurut Kak Alma, membuat kepengurusan di tingkat desa terjadi perubahan. Sehingga DPP melakukan kebijakan untuk merevitalisasi seluruh kepengurusan.
“Ini sudah diatur secara detail, diberikan kearifan lokal masing-masing tapi dengan standar nasional,” ia menjelaskan.
Hal ini tak lepas dari target Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh untuk memenangkan pertarungan Pemilu 2024 mendatang dengan menjadikan NasDem dua besar nasional. Untuk itu diperlukan kepengurusan ranting yang jumlahnya 55 orang atau disebut dengan lima kesebelasan.
“Kepengurusan ini arahnya untuk penyiapan saksi di tingkat TPS yang kita jadikan kader penjaring suara,” Kak Alma menekankan.
Namun, untuk mencapai target itu, Kak Alma mengatakan bahwa perlu usaha ekstra. Kini DPW NasDem Jateng dan pengurus DPW yang ada di bawahnya tengah mempersiapkan strategi untuk memperkuat struktur yang ada di tingkat terbawah tersebut.
Salah satu yang sudah terpikirkan adalah adanya pendidikan politik dengan konsep roadshow ke berbagai daerah. Namun jarena kondisi pandemi, agenda ini terpaksa ditunda.
“Ini perlu proses pendidikan politik dan internalisasi supaya visi, misi, dan tujuan partai bisa dipahami dan disosialisasikan ke masyarakat,” pungkasnya.


